(i)
Ogos itu,
gerimis turun tika senja memerah di langit tawa
kegalauan mengundang dalam rindu gelisah yang bersarang
keasyikan melarik-larik
pada dedaun perasaan yang terusap.
kalau engkau masih saja tidak lupa
kita telah berjalan beriringan
dan mata malu seorang lelaki ini
menelanjangi dirimu;
melihat tubuh yang padat
wajah yang tersurat
melihat ke segenap batinmu yang resah
lantas
bantinku telus dalam batinmu:
“Aku pungguk perindu, ingin bersamamu puteri kenyalang terbang di awangan rasa
menghempaskan diri pada ombak gelora
dan laut China Selatan bukan lagi pemisah setia
di sini,
kita telah di pertemukan dari jarak beratus batu antara kota selatan dan bumi kenyalang
ku ingin melayah bebas bersamamu, kita lepas kembara, meraih kuntum-kuntum bahagia, mengecap pengalaman dari kelopak cinta yang berbunga.”
Tapi ada hakikat yang mengikat
menyekat batinku dari terus menjilat ruang padat batinmu.


(ii)
Ogos itu, rintik hujan malam belum selesai.
nafas masih menyala segar dan kuhamburkan bicara dalam sedar,
meski engkau tidak tahu harapanku
meski ku tahu jawapanmu
tapi kecewa bukan soalnya. dan kitapun berjalan pulang, beriringan - seperti tadinya - kutelusi batinmu:
“Aku pungguk duduk di dahan waktu dalam kesamaran cahaya purnama yang pudar
dan sukmamu wahai puteri kenyalang telah terbang pulang.”
apa yang terlihat bukan ertinya terpahat
kerna lingkungan hidup tak berakhir di situ.

(iii)
Ogos itu, tika gerimis telah mati, adalah malam keberanian,
meninggalkan jejak-jejak pada tanah becak. Yang pasti; hati itu sukar kumiliki
yang tidak pasti; ya mana tahu suatu waktu kita berdua mengawan di gerbang awan
teguh dan ramah
memadam obor yang terbakar
dan tika itu
gemuruh kembali menjelma
bersama titis hujan di bulan Ogos.

13, 14, 17 ogos 1998
2-3 kamar bakawali, um