You are currently browsing the monthly archive for August, 1998.
(i)
Ogos itu,
gerimis turun tika senja memerah di langit tawa
kegalauan mengundang dalam rindu gelisah yang bersarang
keasyikan melarik-larik
pada dedaun perasaan yang terusap.
kalau engkau masih saja tidak lupa
kita telah berjalan beriringan
dan mata malu seorang lelaki ini
menelanjangi dirimu;
melihat tubuh yang padat
wajah yang tersurat
melihat ke segenap batinmu yang resah
lantas
bantinku telus dalam batinmu:
“Aku pungguk perindu, ingin bersamamu puteri kenyalang terbang di awangan rasa
menghempaskan diri pada ombak gelora
dan laut China Selatan bukan lagi pemisah setia
di sini,
kita telah di pertemukan dari jarak beratus batu antara kota selatan dan bumi kenyalang
ku ingin melayah bebas bersamamu, kita lepas kembara, meraih kuntum-kuntum bahagia, mengecap pengalaman dari kelopak cinta yang berbunga.”
Tapi ada hakikat yang mengikat
menyekat batinku dari terus menjilat ruang padat batinmu.
Keresahan menerpa
pada terbit rasa kerinduan
jiwa yang terbungkam kelam
menyasau dan tersasar
sedang keindahan itu bukan nyata
hanya bebayang maya.
aku kini kembali menjejak tanah;
tanah yang sebati dengan darah.
aku kini pulang
menghirup titis-titis air;
air yang bertakung pada mata.
perjalanan hidup
saujana merimbun pengalaman
alam yang bebas
menggugah tangan yang tergenggam.
Seringkali aku kurang pasti
antara pesona dan sebenar cinta
yang mana hati terpaut?
16 ogos 1998
8 mlm, kamar 2-3, bakawali